fbpx

Apakah Paraben itu?

Paraben adalah bahan pengawet yang biasa digunakan pada kosmetik. Paraben merupakan ester dari asam p-hidroksibenzoat. Biasanya produk kosmetik menggunakan Paraben jenis Methylparaben, Propil, dan Butylparaben. Biasanya satu produk bisa menggunakan lebih dari satu jenis Paraben. Terkadang juga dikombinasikan dengan jenis lain dari bahan pengawet untuk mengurangi pelestarian dari beberapa mikroorganisme.

Mengapa Kosmetik Membutuhkan Paraben?

Pengawet ini digunakan untuk melindungi produk dari pertumbuhan mikroba, selain itu juga melindungi konsumen, serta menjaga integritas produk.

Produk yang biasanya menggunakan Paraben adalah produk kosmetik, makanan, dan obat-obatan. Untuk produk kosmetik yang mengandung Paraben pada umumnya seperti make-up, pelembab, produk perawatan rambut, serta busa cukur. Sedangkan untuk deodorant dan antiperspirant kebanyakan belum menggunakan Paraben, untuk saat ini.

Sudah menjadi aturan bagi produk kosmetik ayng dijual kepada konsumen wajib mencantumkan bahan ini pada kemasannya jika memang menggunakan Paraben. Hal ini digunakan sebagai informasi penting bagi konsumen agar dapat mengetahui kandungannya, sehingga dapat memilih produk yang lain jika tidak mau menggunakan kandungan Paraben.

Asal-usul Paraben

Dari tahun 2000, berbagai macam studi dan penelitian menemukan bahwa Paraben menampilkan aktivitas Estrogenik. Simpang siur tentang Paraben ini karena ada yang mengatakan Paraben dapat dipisah oleh tubuh, ada juga yang mengatakan bahwa Paraben berakumulasi pada tumor dan tidak dapat dihancurkan oleh tubuh.

Sebagian kasus Paraben merupakan penyebab terjadinya kanker payudara, yang semulanya hanya menggunakan deodorant secara rutin. Dan deodorant tersebut mengandung Paraben.

The European Journal of Cancer Prevention telah melaporkan bahwa penggunaan Paraben pada produk kosmetik dapat menimbulkan efek negatif pada tubuh kita.

Sayangnya tidak semua orang menolak Paraben. Terutama perusahaan kimia atau perusahaan kosetik. Karena dapat membuat produk mereka bertahan lama dengan biaya yang murah. Bahkan hingga bertahun-tahun.

Percobaan Paraben terhadap hewan

Penelitian Paraben terhadap hewan menunjukkan bahwa paraben punya aktivitas estrogenik yang sangat lemah. Karena Butylparaben 100.000x lebih lemah dariapda estradiol, yaitu hormon pertumbuhan bagi jaringan organ reproduksi. Padahal, Butylparaben yang digunakan untuk percobaan ini dosisnya 25.000x lebih daripada dosis yang biasanya sering digunakan pada kosmetik.

Aktivitas estrogenik Paraben menjadi meningkat sesuai peningkatan panjang gugus alkyl, Paraben bersifat menjadi lebih estrogenik dikarenakan lebih panjang daripada Butylparaben.

Beberapa esterogen diketahui dapat menyebabkan sel-sel tumor. Namun, aktivitas esterogenik dan mutagenik itu berbeda. Kebanyakan kasus tumor disebabkan efek mutagenik akibat zat radikal bebas, sama sekali tidak ada hubungannya dengan aktivitas esterogen.

Penggunaan Paraben

Pada tahun 2005, Paraben dinyatakan aman untuk digunakan dalam kosmetik dengan dosis yang sangat rendah. Peluang untuk memasuki jaringan & terakumulasi dalam jaringan memanglah kecil. Dengan batas konsentrasi yang diperbolehkan tidak lebih dari 0.4%.

Penelitian tentang Paraben

Ilmuwan Jepang, Handa et al. (2006) dan Okamoto et al. (2008) menyatakan bahwa methylparaben yang telah dioleskan ke kulit, jika bereaksi dengan UV B, akan meningkatkan kerusakan DNA dan penuaan kulit. Kecuali jika kulit sudah dilindungi dengan sunscreen sebelumnya yang mengandung bahan anti-UV B maka tidak menjadi masalah.

Nagel et al. (1977), menyatakan bahwa penggunaan Paraben, dapat menyebabkan alergi pada orang-orang tertentu, tergantung ketahanan kulitnya. Gejala ayng terjadi adalah iritasi, contact dermatitis, dan rosacea.

Contact Dermatitis biasanya berupa ruam-ruam yang disertai gatal, juga terasa panas. Kadang juga melepuh. Namun efek ini tidak sama pada setiap orang.

Tetap saja, ada aturan pemakaian dan dosis yang telah ditentukan untuk menggunakan bahan Paraben dengan aman.

Dampak penggunaan Paraben

Penggunaan Paraben tentu juga memiliki berbagai resiko dalam kesehatan. Diantaranya berbagai resiko berikut ini:

Meningkatknya Estrogen
paraben dapat meningkatkan kadar estrogen daam darah. Kadar estrogen akan meningkat saat Paraben meresap melalui kulit. Dan kemudian tubuh kita menyerap Paraben dan menganggapnya seperti Estrogen, meskipun Paraben merupakan zat buatan.

Jika tingkat estrogen meningkat maka bisa menjadi penyebab berbagai masalah kesehatan seperti kista ovarium, kembung, dan depresi.

Kanker payudara
Meningkatnya kadar estrogen dalam jangka panjang karena pemakaian Paraben dapat menyebabkan resiko kanker payudara. Karena terkadang Paraben ditemukan pada penderita kanker payudara setelah tumor diangkat.

Kenaikan berat Badan.
Dalam jangka panjang, Paraben dapat memicu melebihnya berat badan. Misalnya Paraben bisa jadi penyebab kelenjar tiroid bermasalah yang menyebabkan kenaikan berat badan.

Terganggunya kesehatan reproduksi
Pada mamalia jantan, Paraben yang meningkat bisa menjadi apenyebab penurunan kadar testoteron yang dapat menurunkan kemampuan reproduksi dan mengakibatkan infertilitas.

Solusi untuk keberadaan Paraben

Meskipun sudah dinyatakan aman, dengan batas konsentrasi yang telah ditentukan, tetap saja akan berbahaya jika digunakan dalam jangka panjang. Terlebih lagi kemampuan kulit masing-masing orang untuk merespon zat Paraben ini berbeda.

Oleh karena itu, disarankan, dan sebaiknya gunakan bahan kosmetik yang bebas Paraben. Untuk menjaga tubuh tetap sehat dan terhindar ber bagai resiko yang mungkin akan muncul setelah penggunaan Paraben.

Green Angelica tidak menggunakan Paraben

Ya, produk Green Angelica tidak menggunakan Paraben dikarenakan terus mendukung kesehatan dan tidak ingin memberikan resiko ataupun efek samping setelah penggunaannya. Apalagi jika digunakan dalam jangka panjang.

Oleh karena itu, produk Green Angelica tidak menggunakan bahan Paraben untuk tetap menjaga kualitasnya terutama untuk kesehatan konsumen.